Selasa, 01 Mei 2012

 WARNA BATIK

warna batik

bila kita meninjau mengenai batik maka kita bertanya terlebih dahulu dasi segi mana kita akan meninjau. Batik dapat ditinjau dari berbagai segi yaitu sebagai seni batik dan teknik batik. Peninjau batik menurut segi seni batik yakni meninjau dari pewarnaan baik itu arti warna, keharmionisan dan sebagainya tentang pewarnaan. sedangkan dari segi teknik yakni melihat bahan, tenik maupun proses dalam pewarnaannya. penijauan ini saling berkaitan sangat sulit untuk memisahkannya kedua unsur ini. apalagi dengan meninjau secara kronologis urutan mengenai zaman maupun periode pembuatan hal ini karena bahan-bahan yang kita miliki belum terlalu lengkap.
secara umum warna-warna yang sering dipapaki dalam pewarnaan batik sebagai berikut:
1. Warna hitam
2. warna biru tua
3. warna soga/ coklat
warna mengkudu/ merah tua
5. warna hijau
6. warna kujning
7. warna violet
zaman dahulu kain batik hanya dibuat dengan satu macam warna yakni merah tua atau biru tua seperti di daerah Jawa Barat yang disebut “kain simbut” dengan motif garis-garis berwana putih dan warna dasar merah tua. Di jawa tengah dikenal dengan “kain kelengan” yang berwarna dasar biru tua. batik dengan satu warna ini cukup popular di daerah Jawa Barat seperti kain balakbag dari tasik dan “mego-mendung” serta “kain bukit-batu” dari Cirebon.
dalam perkembangan selanjutnya pewarnaan menggunakan dua macam warna yakni biru tua dan warna soga atau coklat. Hal ini bergantung bagaimana proses pembuatannya, warna biru tua masih tetap atau berubah menjadi hitam kerna pengaruh warna coklat. Kain dengan pearnaan ini cukup popular di daerah Jawa Tengah seperti dari Jogja, Sala Semarang dan Ponorogo. sedangkan di daerah jawa barat dikenal denga proses Bedesan. di daerah  Pekalongan, Lasem, Cirebon sudah biasa menggunakan warna-warna lain seperti hijau,kuning, merah dan ungu.
namun dengan perkembangan teknologi pewarnaan batik senantiasa berkembang dan semakin bervariatif. sehingga batik menjadi lebih hidup dan semakin berinteraksi dengan manusia selain dengan keindahan motif-motif yang dimilikinya,

Penggunaan pewarna alami dalam membuat batik

Industri pembuatan kain batik, baik skala kecil maupun menengah, hendaknya menggunakan pewarna alami daripada pewarna tekstil sintetis. Limbah hasil pencelupan batik dengan pewarna alami dinilai lebih aman dan tidak menimbulkan dampak pencemaran lingkungan.
Alasannya adalah karena pewarnaan tersebut berasal dari alam, dengan sendirinya zat-zat yang terkandung dalam pewarna alami dapat mudah terurai. Berbeda dengan pewarna tekstil sintetis yang sulit terurai di alam, hal ini sesuai dengan perkataan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) DIY, Harnowati,
Limbah dengan pewarna tekstil sintetis akan mencemari sumber-sumber air warga, baik yang dibuang ke sungai, atau yang dibuang ke tanah karena akan mudah masuk ke sumur. Dampak pencemaran baru terasa setelah beberapa puluh tahun kemudian, terutama bagi kesehatan warga, yakni ancaman kanker atau gangguan pencernaan akibat akumulasi zat-zat berbahaya yang masuk ke dalam tubuh melalui air minum.
Menurut pantauan Bapedalda DIY, tingkat pencemaran air sungai maupun air bawah tanah oleh limbah hasil pencelupan batik masih dalam ambang toleransi. Akan tetapi, pencemaran ini harus diantisipasi sejak awal agar tidak sampai ke tahap mengkhawatirkan seperti yang terjadi di beberapa sentra batik di Jawa Tengah, seperti Solo dan Pekalongan.
Pewarnaan dengan bahan dasar alam yang biasa dibuat berupa pasta warna biru yang berasal dari olahan daun indigo. Selain warna biru, terdapat pula pasta dengan warna-warna lain seperti coklat dari hasil rendaman kayu mahoni, coklat kemerahan dari buah enau, atau hijau dan kuning yang berasal dari rendaman aneka dedaunan. Namun jumlah produksi pasta warna alami masih terbatas, karena tidak dibuat secara massal.
So., let’s save our planet with batik!!

MEMBERI WARNA PADA KAIN BATIK

Pelangi tidak akan indah jiga tidak memiliki warna begitu juga dengan kain batik. Jika hanya berupa motif saja tentunya kain batik yang diciptakan akan menjadi kurang indah.Untuk memberikan nuansa indah tersebut kita membutuhkan warna dalam kain batik. Macam-macam pewarnaan dalam dabatik sebagai berikut:
  1. Medel
pemberian warna biru tua pada kain yang dicap klowongan dan tembok dengan cara dicelup. Dahulu proses ini menggunakan nila dari daun indigofera (daun-tom) karena memiliki daya pewarna lambat, maka harus dilakukan secara berulang. Medel sekarang dilakungan menggunakan zat warna Indigo synthetis dan naptol.
  1. Celupan warna dasar
Batik-batik daerah Pekalongan, cirebon, Banyumas dan lainnya yang berwarna tidak diwedel naun diganti warna lain seperti violet, merah, hijau orange dan lainnya. Hal ini agar pewarnaan berikutnya tidak berubah. Zat warna yang bisa dipakai biasanya memiliki ketahanan yang baik seperti cat indigosol, Napthol/Indanthreen.
  1. Mneggadung
Yakni menyiram kain batik dengan larutan zat warna. Tekniknya dengan menggelar kain kemudian disiram dengan larutan cat. Cara ini menghemat zat warna namun menjadi agak kurang merata karena pemerataannya dilakukan dengan menyapunya. Pewarnaan ini sering dilakukan oleh pembatik di Pekalongan untuk warna pada kain sarung atau buketan
4.Coletan atau dulitan
Yakni pemberian warna dengan kuas atau dilukis dimana bagian yang diwarnani dibatasi oleh garis lilin. Cat yang biasa digunakan seperti Rapid dan Indigosol
  1. Menyoga
Pemberian warna coklat pada kain batik. Bagi daerah jogja Solo, ini merupakan pewarnaan terakhir. Zaman dahulu pewarnaan menggunakan kulit pohon soga. Sekarang banyak digunakan pewarnan seperti Soga Ergan. Chroom. Kopel Naphtol, indigosol/kombinasii dari zat-zat warna tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar